Rabu, 5 September 2018

Pelajaran Sekolah Sabat 10, 06 September 2018


Pelajaran Sekolah Sabat 10
Khamis 06 September  2018

Tirus Dan Kaiseria

Selepas Miletus, Lukas mencatatkan perjalanan Paulus dengan lebih terperinci. Masih dalam perjalanan ke Jerusalem, rasul itu tinggal di Tirus seminggu lamanya kerana kapal yang mereka naiki harus menunggah barang di pelabuhan kota pantai Phoenisia (Kisah 21:1-6). Bagaimanapun, sementara mereka di sana, orang-orang percaya memberitahu Paulus supaya tidak pergi ke Jerusalem. Orang-orang percaya ini dipimpin oleh Roh Kudus untuk memberi amaran kepada Paulus supaya tidak pergi ke Jerusalem; tidak semestinya bertentangan dengan petunjui awal rasul. Dalam Bahasa Greek: etheto en to mneumati dalam Kisah 19:21 seharusnya diterjemahkan sebagai “diselesaikan/sesuai dengan Roh Kudus” daripada seolah-olah Paulus membuat semua keputusan sendiri. Maksudnya adalah bahawa Roh Kudus mungkin telah memperlihatkan kepada orang-orang Kristian Tirus beberapa bahaya akan dihadapi oleh Paulus; oleh itu, daripada kebimbangan manusia, mereka mencadangkan agar dia tidak meneruskan niatnya. Paulus sendiri tidak pasti tentang apa yang akan berlaku ke atas dirinya di Jerusalem kelak (Kisah 20:22, 23). Tuntunan ilahi tidak selalunya menjadikan sangat jelas, sekalipun kepada orang seperti Paulus.

Sila baca Kisah 21:10-14. Apakah kejadian istimewa berlaku di Kaiseria mengenai perjalanan Paulus ke Jerusalem?

Agabus seorang nabi dari Jerusalem telahpun diperkenalkan pada masa episod kebuluran dalam Kisah 11:27-30. Dalam cara yang sama dengan beberapa nubuatan Perjanjian Lama (sebagai contoh: Yesaya 20:1-6, Yeremia 13:1-10), mesejnya adalah sesuatu yang dilakukan, ia berfungsi sebagai ilustrasi yang jelas tentang apa yang akan berlaku kepada Paulus apabila dia sampai di Jerusalem dan bagaimana musuh-musuhnya serahkan dia kepada orang-orang bukan Yahudi (orang Roma).

Mereka yang bersama dengan Paulus nampaknya telah menerima mesej Agabus sebagai peringatan, bukan sebagai nubuatan, oleh itu mereka cuba dengan sebala cara untuk menyakinkan rasul supaya tidak harus pergi ke Jerusalem. Walaupun sangat teruja dengan reaksi mereka, Paulus bertekad untuk mencapai misi beliau, sekalipun pada kos hidup dirinya sendiri. Bagi dia, yang lebih penting ialan integrit injil dan kesatuan gereja berbanding dengan keselamatan diri sendiri atau keuntungan.

Tidak pernah sebelum rasul itu mendambakan Jerusalem dengan hati yang sedih. Dia tahu bahawa dia akan mendapatkan beberapa orang kawan dan banyak musuh. Dia mendekati kota yang telah menolak dan membunuh Anak Tuhan dan yang sekarang telah menggantungkan ancaman murkah ialahi.

Sekalipun disalahfaham, difitnah, diperdaya dan seringkali dihina, iman Paulus menjadi tertekan. Bagaimanakah kita belajar untuk melakukan yang sama dalam keadaan yang tidak menggalakkan?

Sabbath School Lesson 10
Thursday  September 6

Tyre and Caesarea

After Miletus, Luke records Paul’s journey in some detail. Still en route to Jerusalem, the apostle spent a week in Tyre, on the Phoenician coast, where the ship was to be unloaded (Acts 21:1-6). However, while he was there, the believers urged him not to go to Jerusalem. That the believers were led by the Spirit to warn Paul not to go to Jerusalem is not necessarily in contradiction to the apostle’s earlier guidance. The Greek etheto en to pneumati in Acts 19:21 should likely be rendered as “resolved/purposed in the Spirit” (ESV, NRSV, NKJV), rather than as if Paul had come to this decision all by himself. The point is that the Spirit may have shown the Tyrean Christians the dangers that lay ahead of Paul; and so, out of human concern, they recommended that he not proceed with his intent. Paul himself was not sure about what would happen to him in Jerusalem (Acts 20:22, 23). Divine guidance does not always make everything clear, even for someone like Paul.

Read Acts 21:10-14. What special incident took place in Caesarea concerning Paul’s trip to Jerusalem?

Agabus was a prophet from Jerusalem who had already been introduced in the famine episode in Acts 11:27-30. In a way similar to some Old Testament prophecies (for example, Isa. 20:1-6, Jer. 13:1-10), his message was an acted one; it functioned as vivid illustration of what would happen to Paul when he arrived in Jerusalem and how his enemies would hand him over to the Gentiles (the Romans).

Those who were with Paul apparently took Agabus’s message as a warning, not as a prophecy, and so they tried by all means to convince the apostle he should not go up to Jerusalem. Though deeply touched by their reaction, Paul was determined to accomplish his mission, even at the cost of his own life. For him, the integrity of the gospel and the unity of the church were more important than his own personal safety or interests.

“Never before had the apostle approached Jerusalem with so sad a heart. He knew that he would find few friends and many enemies. He was nearing the city which had rejected and slain the Son of God and over which now hung the threatenings of divine wrath.”—Ellen G. White, The Acts of the Apostles, pp. 397, 398.


Misunderstood, maligned, mistreated, and often reviled, Paul nevertheless pressed on in faith. How can we learn to do the same in discouraging circumstances?

Tiada ulasan:

Catat Ulasan