Khamis, 20 September 2018

Pelajaran Sekolah Sabat 12, Jumaat 21 September 2018


Pelajaran Sekolah Sabat 12
Jumaat 21 September 2018

Kajihan Tambahan : “Adakah Agrippa pada kata-kata ini berbalik kepada sejarah keluarganya yang lalu dan usaha mereka yang tidak berani melawan Dia yang Paulus khutbahkan? Adakah ia memikirkan tentang moyangnya Herod dan pembunuhan beramai-ramai anak-anak kecil di Bethlehem yang tidak bersalah? Tentang datunya Antipas dan pembunuhan Yohanes pembaptis? Tentang bapanya sendiri, Agripa I dan mati syahidnya rasul Yakobus? Adakah dia melihat dalam bencana yang dengan cepat menimpa raja-raja ini sebagai bukti ketidaksenangan Tuhan akibat kejahatan mereka terhadap hamba-hambaNya? Adakah kegembiraan dan penyajian pada hari itu mengingatkan Agrippa pada waktu ayahnya sendiri, raja yang lebih kuat daripada dia, berdiri di kota yang sama, berpakaian jubah berkilauan, sementara orang-orang menjerit bahawa dia adalah tuhan? Sekiranya dia melupakan bagaimana, walaupun sebelum teriakan yang mengagumi telah meninggal dunia, balas dendam, cepat dan dahsyat, telah menimpa ke atas keangkuhan raja? Sesuatu dari semua ini melepasi ingatan Agrippa, tetapi kesombongannya tersanjung oleh adegan yang cemerlang di hadapannya dan membanggakan diri sendiri yang penting menangkis segala pemikiran yang lain.”-Ellen G. White Comments, The SDA Bible Commentary, vol. 6, ms. 10661067.

Soalan-Soalan Perbincangan :

1. Bincangkan keputusan Paulus untuk merey kepada Kaisar dalam kelas. Adakah keputusan itu bertepatan (bandingkan dengan Kisah 25:25; 26:31, 32)? Sejauh manakah kit boleh membuat keputusan strategic untuk melindungi diri kita daripada bergantug sepenuhnya kepada penjagaan Tuhan?

2. Perhatikan kenyataan Paulus kepada Agrippa: “ ‘Sebab itu, ya raja Agripa, kepada penglihatan yang dari sorga itu tidak pernah aku tidak taat’ “ (Kisah 26:19 ). Apakah ayat ini beritahu kita tentang Paulus? Sejauh mana kesetiaan kita kepada panggilan misionari sebagai orang-orang Kristian (1 Peterus 2:9, 10)?

3. Paulus mempunyai perasaan cinta kepada manusia – tidak terkira bilangan, tetapi kepada manusia. Dalam perbicaraan terakhirnya di Kaisarea, dia berkata kepada hadirin bahawa hatinya inginkan agar semua mereka akan sama seperti dia; ia itu diselamatkan oleh kasih kurnia Tuhan (Kisah 26:29). Paulus tidak inginkan kebebasan atau keadilan lebih daripada keinginannya agar mereka pengalami keselamatan Tuhan. Apakah yang kita dapat pelajari daripada contoh di sini? Sejauh manakah kerelaan kita untuk berkorban agar dapat melihat penyebaran Injil?

4. Agripa mempunyai peluang untuk mendengar Injil terus daripada mulut Paulus. Namun, dia menolaknya. Sejauh mana kita berhati-hati agar tidak terlepas peluang-peluang apabila ia muncul benar-benar di hadapan kita? Ia itu, bagaimana kita dapat pertahankan kerohanian kita sehingga dapat menyesuaikan dengan keadaan di sekeliling kita?

Sabbath School Lesson 12
Friday September 21

Further Thought: “Did the mind of Agrippa at these words revert to the past history of his family, and their fruitless efforts against Him whom Paul was preaching? Did he think of his great-grandfather Herod, and the massacre of the innocent children of Bethlehem? of his great-uncle Antipas, and the murder of John the Baptist? of his own father, Agrippa I, and the martyrdom of the apostle James? Did he see in the disasters which speedily befell these kings an evidence of the displeasure of God in consequence of their crimes against His servants? Did the pomp and display of that day remind Agrippa of the time when his own father, a monarch more powerful than he, stood in that same city, attired in glittering robes, while the people shouted that he was a god? Had he forgotten how, even before the admiring shouts had died away, vengeance, swift and terrible, had befallen the vainglorious king? Something of all this flitted across Agrippa’s memory; but his vanity was flattered by the brilliant scene before him, and pride and self-importance banished all nobler thoughts.”—Ellen G. White Comments, The SDA Bible Commentary, vol. 6, pp. 1066, 1067.

Discussion Questions:

1. In class, discuss Paul’s decision to appeal to Caesar. Was this decision correct (compare with Acts 25:25; 26:31, 32)? To what extent can we legitimately make strategic decisions to protect ourselves instead of relying entirely on God’s care?

2. Reflect on Paul’s statement to Agrippa: “Therefore, King Agrippa, I was not disobedient to the heavenly vision“ (Acts 26:19, NKJV). What does it tell us about Paul? How faithful are we to our missionary calling as Christians (1 Pet. 2:9, 10)?

3. Paul had a passion for people—not for numbers, but for people. In his final hearing in Caesarea, he said to his audience that his heart’s desire was that all of them would be like him; that is, saved by God’s grace (Acts 26:29). He did not wish his own freedom or justice more than he wished them to experience God’s salvation. What can we learn from his example here? How much are we willing to sacrifice in order to see the gospel spread?

4. Agrippa had a chance to hear the gospel right from the mouth of Paul. And yet, he rejected it. How can we be careful not to miss great opportunities when they appear right before us? That is, how can we stay spiritually attuned to the realities around us?

Tiada ulasan:

Catat Ulasan